Di lemari kaca ini, aku berdesakan bersama beberapa baju lainnya. Mereka beraneka warna. Ada totol-totol, kembang-kembang, garis-garis dan bermacam motif lainnya.

Tubuhku polos. Tapi di lemari ini, aku yakin, akulah yang tercantik.

Warnaku ungu muda yang lembut, dihiasi renda dan bordiran halus, juga manik-manik yang berkilau jika tersorot lampu. Bu Satriya, si penjahit, mematutku di muka cermin begitu ia selesai menjahitku. Seketika aku terpesona melihat wujudku.

Oh, aku sungguh tak sabar ingin bertemu pemilikku. Ia pasti seorang gadis kecil yang cantik.

Hari demi hari berlalu, aku masih menjadi penghuni lemari ini. Tidak ada seorang pun datang tuk menjemputku. Si totol-totol sudah pergi. Si garis-garis langsung membungkus tubuh penjemputnya saat meninggalkan tempat ini. Si  kembang-kembang hari ini dilipat rapi untuk diserahkan pada pemiliknya. Penghuni lemari silih berganti menemaniku. Kadang terasa sesak, sampai aku khawatir ada manik-manik atau bordiran yang menyangkut di kancing mereka. Kadang agak longgar karena Bu Satriya belum menyelesaikan orderan-orderan baju yang lain.

Suara deru mesin jahit menjadi sesuatu yang kian kuakrabi.

Sesekali, Bu Satriya mengeluarkanku saat tamunya membawa anak perempuan.

“Mungkin Adik Manis mau membuat baju pesta seperti ini?” tawarnya.

“Wow, cantik sekali!”

Puji-pujian, juga rengekan dari anak-anak yang menginginkanku alih-alih membuatku gembira, justru membuatku semakin merana.

Mengapa pemilikku belum datang menjemput?

Apakah ia berubah pikiran? Apa ia tidak lagi menginginkanku?

Kapan aku bisa keluar dari pintu rumah ini? Setiap saat aku berkhayal, pemilikku kelak membawaku ke sebuah pesta yang meriah. Mungkin ia akan menari di bawah lampu, membuatku mengembang indah dan berkerlipan.

Tapi kapan?

Di dalam lemari ini, aku masih yang tercantik, sekaligus yang paling menyedihkan.

*

Pada suatu sore yang basah, seorang wanita paruh baya datang tergopoh. Bu Satriya tampak terkejut saat membuka pintu. Tamu wanita dengan rambut digelung tersebut meletakkan payungnya di muka pintu, lalu melangkah masuk tanpa mencopot sepatu. Seketika jejak langkahnya meninggalkan kemilau air di lantai.

Aku tak dapat mendengar perbincangan mereka. Tapi aku yakin mereka terlibat dalam sebuah perbincangan serius. Kulihat, wajah mereka tegang. Tapi hei … wajah mereka berangsur sedih. Mereka mulai mengusap mata. Kenapa, ya?

Bu Satriya berdiri, lalu berjalan mendekati lemari. Siapakah yang akan ia ambil?

“Sepertinya ia akan mengambilku,” kata sebuah baju terusan berwarna kelabu dengan kerah dan kancing berderet dari atas hingga bawah. “Aku tampak sama membosankannya dengan wanita itu.”

“Tapi kau akan kebesaran di tubuhnya. Wanita itu sangat kurus,” kata si  blazer kotak-kotak.

Bu Satriya tepat di depan lemari. Raut wajahnya membuat hatiku tidak enak. Desahannya begitu panjang saat ia membuka lemari. Kami semua menahan napas. Siapakah yang akan ia ambil?

Jantungku nyaris melompat saat ia mengambilku. Tapi ah, jangan-jangan ia hanya akan menunjukkan keindahanku pada wanita itu. Mungkin agar wanita itu mau membuatkan baju serupa untuk cucunya.

“Wah, akhirnya kau pergi!” pekik si blazer kotak-kotak.

Aku menoleh ke belakang dan mendapati perhatian seisi lemari tertuju padaku.

“Selamat jalan, Kawan!” seru kemeja putih yang terjepit di antara celana kargo dan seragam pegawai negeri.

Aku menggeleng. “Tidak mungkin aku,” desisku.

“Ya, Tuhan!”

Aku terlonjak saat wanita itu memekik. Segera kualihkan pandang pada wajahnya. Mulut wanita itu ternganga, dan matanya terbelalak menatapku, seolah sedang melihat hantu. Tangannya gemetar saat menyentuhku. Air matanya mengalir deras.

Aku bingung, apa yang salah?

“Eli pasti cantik sekali saat memakai gaun ini, hiks!” Kini dia sesenggukan.

Aduh, aku semakin bingung. Terlebih saat ia memelukku erat. Aku bisa merasakan tubuhnya yang sedikit gemetar, dan dadanya yang berguncang oleh isakan.

“Saya bungkus, Bu?” kata Bu Satriya.

Wanita itu menyerahkanku pada Bu Satriya. Aku dihampar di meja ukur, dan dibiarkan berbaring sebentar saat Bu Satriya pamit ke ruangan dalam. Wanita tadi mendekat dan terus memandangku dengan sorot mata yang tak bisa kutebak artinya. Uh, ada apakah ini? Kulirik teman-temanku di dalam lemari kaca. Mereka semua sedang memperhatikan kami dengan penasaran.

Bu Satriya muncul dengan kotak ungu pucat yang cantik di tangannya. Ia juga membawa seutas pita ungu tua dari bahan satin. Ia melipatku, lalu menaruhku dengan hati-hati ke dalam kotak. “Nah … cantik,” gumamnya sebelum menutup kotak sambil berkata dengan suara tercekat, “Eli pasti suka.”

Eli. Diakah yang akan memakaiku? Tapi mengapa kedua wanita ini justru bersedih? Ada apa dengan Eli?

Gelap. Aku tak dapat melihat ke mana aku dibawa. Tapi sepertinya aku mengalami perjalanan yang cukup jauh. Yang pasti, sepanjang perjalanan, aku mendengar isak lirih wanita penjemputku.

Oh Tuhan, apa yang akan terjadi selanjutnya?

*

“Eliiii!”

Aku terkesiap. Suara wanita yang membawaku kini berubah 180 derajat. Suaranya riang dan bersemangat.

Grandma!” sebuah suara anak kecil menyahut. Terdengar senang walau pun lemah. Aku mendengar suara kecupan, juga suara orang-orang lain menyapa wanita yang dipanggil Grandma itu. Suara tawa berderai. Sepertinya ada yang melempar lelucon.

Ayo, bukalah kotak ini! Aku menjerit dalam hati. Aku ingin segera melihat Eli, dan orang-orang itu.

Lalu, tibalah saatnya ….

SURPRISE!”

Cahaya terang menyorotku tepat dari langir-langit. Lalu, aku melihat seraut wajah mungil dengan titik-titik pantulan cahaya dari manik-manik di tubuhku. Mulut gadis itu membulat. Matanya berkilat.

“Wow!” ia memekik, lalu tangannya meraupku. “Tolong perlihatkan padaku, Grandma!” pintanya.

Aku langsung berpindah tangan. Di tangan Grandma, aku berdiri menghadapnya. Kini jelas di mataku, rupa gadis kecil itu.

Eli berwajah mungil, berkulit kuning langsat, dengan ujung hidung yang mencuat. Bibirnya tipis, berwarna pucat, namun senyumnya menghangatkan hati. Sepasang matanya yang bulat tampak sayu. Tapi mata itu kini berkerlipan. Cahayanya bahkan lebih terang dari pantulan manik-manik di tubuhku.

Kedua tangan Eli terangkat, lalu memegang permukaan kulit kepalanya yang licin. Ya, Eli tak berambut. “Ya ampun, bagus sekali, Grandma! Boleh aku mencobanya?”

“Tentu Eli. Sehabis kemo, ya?”

Bibir Eli mengerucut.

Seorang lelaki dan perempuan muda mendekatinya. Dari garis wajahnya, aku menebak mereka adalah orang tua Eli.

“Sabar ya, Nak. Sekaliii lagi. Habis itu, Papa undang teman-teman Eli ke sini.”

“Eh, Mama juga sudah siapkan kado untuk Eli, lho!”

Eli tersenyum. “Oke Mama, Papa, Grandma. Eli siap kemo!” ujarnya sambil meletakkan tangannya di kening.

“Anak hebat!”

Tak lama berselang. Dua orang perawat datang dan membawa Eli dengan kursi roda. Orang tua dan nenek Eli membuntuti sambil terus mengajak Eli mengobrol hal-hal yang menyenangkan.

Aku dibiarkan terhampar di atas kasur. Eli bilang, saat masuk kamar setelah kemoterapi, yang ingin ia lihat pertama kali adalah aku. Kuedarkan pandangan ke sekeliling dan mulai mencerna keadaan. Eli sakit. Ia akan menjalani pengobatan. Semua berusaha membuat Eli senang. Seketika aku juga bertekad, untuk selalu membuat Eli senang.

*

Akhirnya, saat itu tiba.

Eli mematut diri di cermin, dengan aku membalut tubuhnya. Ia tak henti tersenyum, melenggak-lenggok, juga berputar. Kepalanya yang gundul ia hias dengan bandana besar, yang senada dengan warnaku. Ah, Eli cantik sekali saat tertawa. Ia juga terlihat lebih sehat saat bergembira.

Grandma dan Mama berada di dalam kamar yang telah dihias dengan banyak pita dan balon. Mereka berdua tak henti memuji betapa cantiknya Eli memakaiku.

Krek!

Papa Eli membuka pintu dan melongok. “Sudah si ….” ia terdiam dan tertegun menatap Eli. Matanya berkaca-kaca. Ia mendekati Eli. “Cantik sekali, Sayang. Selamat ulang tahun. Semoga sehat dan panjang umur,” doanya sambil mengecup kening Eli.

Tiba-tiba pintu terbuka lebih lebar. Seorang anak lelaki gundul seumuran Eli berseru, “Om, aku capek bawa kuenya!” Ia meringis. Wajahnya sungguh jenaka.

Semua tertawa.

Teman-teman Eli, sesama penderita kanker yang menjalani pengobatan di rumah sakit, menyerbu masuk kamar Eli. Mereka menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun dengan gembira. Eli menari dan berputar. Tawanya berderai tak henti-henti.

Dadaku terasa hangat. Hari ini, aku merasa menjadi gaun paling bahagia di dunia. Aku berharap bisa terus menemani Eli hingga ia besar. Kelak ia mempunyai anak perempuan, aku akan senang sekali jika Eli menjadikanku gaun ulang tahun permata hatinya.

Semoga semangat di dada Eli bisa membawanya tiba ke saat itu.

*Cerita oleh: Tria Ayu K

Cerita ini adalah fiksi yang diikutsertakan dalam Lomba Blog Menulis Fiksi “Ulang Tahun” yang diselenggarakan olah Komunitas Blogger Semarang Gandjel Rel

*Hari ini, tanggal 4 Februari, juga merupakan Hari Kanker Sedunia. Setulusnya saya mendoakan para penyintas kanker agar semangat selalu menyala. Keep fighting!