Latar cerita, atau lebih sering disebut setting cerita, adalah keterangan mengenai tempat, waktu, dan suasana peristiwa di dalam cerita.

  • Latar Tempat

Macam-macam tempat yang bisa dijadikan latar cerita: gunung, pantai, sekolah, rumah, mal, negeri dongeng, negeri masa depan, restoran, dll.

  • Latar waktu

Kita bisa saja menulis cerita mengenai kejadian di masa lalu, masa sekarang, bahkan di masa depan. Cerita yang terjadi jauh di masa depan biasanya disebut cerita futuristik.

Latar waktu dan tempat tergambar dalam ilustrasi. Gambar diambil dari sini.

Kita perlu menggambarkan suasana latar agar pembaca dapat membayangkan atau memperoleh gambaran, seperti apa tempat yang dimaksud dan/atau kapan kejadian berlangsung.

Contoh penggambaran suasana latar tempat tanpa menyebutkan nama tempat tersebut

  • Pasar:

Desi menjepit hidungnya dengan jempol dan telunjuk saat Ibu menggandengnya masuk ke dalam tempat ini. Baunya amis sekali! Tentu saja. Di hadapannya saat ini, berjejer kios-kios yang menjual beragam jenis ikan. Desi selalu suka makan ikan. Tapi ia tidak tahan menghadapi bau ikan mentah sebegitu banyak.

“Kamu mau nila atau lele, Desi?” tanya Ibu.

“Lele,” jawab Desi cepat. Ia tidak ingin berlama-lama di tempat ini. Ia lebih suka bagian sayur dan buah-buahan. Meski tempat ini sumpek dan ramai, tidak seperti di swalayan, Desi tetap suka melihat warna-warni sayur dan buah.

  • Pesawat:

Dino menyeka keringat di keningnya lalu membenarkan posisi duduknya. Meski AC terasa dingin, rasa cemas membuatnya berkeringat. Ia kini berada pada ketinggian sekian ribu kaki dari bumi, dan Dino tidak bisa menyembunyikan rasa takutnya. Seandainya saja ia tidak harus berada di Jakarta esok pagi, ia lebih memilih naik kereta.

Contoh penggambaran suasana latar waktu tanpa menyebutkan waktunya:

  • Shubuh:

Kukuruyuuuk!

Ayam berkokok nyaring sekali. Waktunya Ian bangun. Dengan kaki diseret, Ian turun dari tempat tidur. Brr … udara masih terasa dingin. Tapi Ian paksakan diri ke kamar mandi untuk berwudhu.

  • Tahun 2122

Rasanya, kepalaku pusing dan pikiranku linglung. Aku tidak ingat bagaimana caranya aku bisa sampai di tempat ini. Pemandangan di hadapanku hanya Gedung-gedung  yang sangaaat tinggi, seolah mereka hendak menyodok langit. Gedung-gedung itu, tidak seperti yang kulihat di Jakarta. Gedung-gedung  ini berdindingkan besi, mirip permukaan-permukaan robot-robotan. Ah ya, aku membawa ponsel di kantongku. Aku harus menelpon ayahku dan minta dijemput. Saat melihat tanggal di permukaan ponselku, aku ternganga melihat tahun yang tertera. Yang benar saja! Aku telah melompat 1 abad lamanya?

Nah, demikian sekilas mengenai latar cerita. Kita bisa berlatih menggambarkan latar dari foto, gambar, atau, dari keadaan di sekitarmu. Nulis, yuk! *Clink