Beberapa waktu lalu, pengumuman dan juknis Sayembara Gerakan Literasi Nasional 2021 yang diadakan Badan Bahasa RI sudah dirilis. Bisa ditebak, penulis-penulis langsung gercep cari ilustrator. Kalau nggak segera dapat, keburu ilustrator favoritnya dipinang penulis lain.

Kenapa sih, lomba ini diserbu oleh para penulis? Nominal hadiahnya besar, itu salah satunya. Kedua, romansa yang ditawarkan. Saat 150an orang penulis senusantara disatukan dalam ruangan yang sama, apa yang akan terjadi? Petjah!

Baik, saya akan mulai cerita tentang lomba menulis yang dalam beberapa tahun ini agak mengubah hidup saya.

What? Hidup? Sedahsyat itukah?

Tergantung prespektif dan tingkat hiperbola masing-masing orang, sih. Memang ada kalanya saya lebay 🙂

GLN 2017: Bertemu Banyak Sastrawan dan Guru-Guru Hebat

Tahun 2017 saat saya pertama kali mengikuti sayembara yang diselenggarakan oleh Badan Bahasa RI ini. Info sayembara GLN sliweran, dengan jenis naskah fiksi (novel atau kumcer) dan non fiksi. Saya hanya baca sekilas dan merasa malas. Bagi saya, itu adalah lomba dengan syarat teribet. Saya yang biasa nulis naskah tanpa tahu urusan lay out, ilustrasi, apa lagi cetak mencetak hingga menjadi dummy, harus melakukan semua itu sebagai syarat lomba. Bahkan, font tulisan pun bukan jenis font yang familier. Saya ingat, waktu itu menyebutnya sebagai font Andika Kangen Band.

Skip.

Apa lagi, saya baru saja lepas dari masa hibernasi menulis yang panjang. Butuh waktu bagi saya untuk memulai ‘ngotot’ lagi menulis. Saya abaikan flyer lomba itu. Walau hadiahnya 10 juta, saya sepertinya bakal tekanan batin deh, saat mengerjakannya.

Tapi nasib berkata lain. Seorang kawan menghubungi saya. Ia sedang mencari penulis novel anak untuk menulis bagi Balai Bahasa Yogyakarta. Ternyata, persyaratan teknisnya persis sama dengan syarat lomba GLN pusat. Mau tidak mau, saya mempelajari dan melakukan langkah-langkah yang sebelumnya saya pikir ribet saat mengerjakan novel tersebut.

Ternyata memang ribet, sih. Tapi toh tidak sulit-sulit amat kalau kita mau sedikit memaksa diri. Satu lagi yang mesti dicatat: kita tidak perlu ngotot untuk melakukan semuanya sendiri. Kamu bisanya cuma nulis, ya fokus saja untuk menulis dengan bagus. Ilustrasi bisa order ke ilustrator profesional. Lay out bisa order juga pada lay outer. Ta ta tapi … bayar ilustrator dan lay outer kan pakai uang, bukan pakai doa? Iya, memang butuh modal selain doa. Silakan berhitung menurut keyakinan masing-masing saja. Kalau pikiran saya, jika menang jelas untung banyak secara financial dll. Kalau belum terjaring, itung-itung itu ongkos ‘belajar’ saat berproses.

Sayang, seusai menulis untuk Balai Bahasa Yogyakarta, deadline GLN hanya sisa seminggu. Capek. Bisa tambah kurus dan rambut rontok kalau memaksa diri untuk ikutan. Tapi eh, deadline diundur 2 minggu lagi. Saya langsung berpikir, apakah ini pertanda saya harus ikut? Mungkin ini kesempatan bagi saya untuk menulis novel anak lagi setelah beberapa tahun novel anak tak lagi menjadi tren.

O yeah … langsung deh buka laptop dan nulis novel, order ilustrasi, minta tolong bojo untuk lay out dan bikin kover, cetak di digital printing, kirim. Horee, menang!

Semudah itukah? Gak! Biar cepat aja, sih. Soalnya drama behind the scene-nya lebih panjang ketimbang isi novel yang saya buat. Kalau diceritain semua keburu deadline GLN tahun ini selesai :))

So, yang saya lakukan saat itu di antaranya:

  1. Mencermati semua persyaratan. Ikuti semuanya walau hati berontak. Ingat, bukan kamu yang bikin lombanya, jadi kudu nurut.
  2. Kenali karakteristik penyelenggara dan produk yang sudah ada. Saya main-main ke web Badan Bahasa, lihat-lihat buku dari lomba terdahulu. Sebelum tahun 2017, ternyata lomba-lomba yang mereka adakan biasanya untuk guru. Berdasar referensi, ada beberapa ciri khas dari buku-buku mereka. Biasanya cerita berlatar budaya. Lokalitas kuat banget. Ada pengenalan bahasa daerah. Itu yang saya terapkan dalam Batik Tambal untuk Kakek. Karena seting di Yogya, percakapan diselingi bahasa Jawa, dan kita sertakan terjemahannya. Bisa dalam bentuk footnote atau glosarium.
  3. Bahasa Indonesia memakai kaidah yang baik dan benar. Ya kan, yang ngadain Badan Bahasa. Sering-sering cek KBBI ya pas nulis, biar ntar bukunya ga dicoret-coret juri trus dikasih catatan ‘gunakan kata baku!’
  4. Tema dan pokok bahasan spesifik, tidak terlalu luas. Tema GLN 2017 cakupannya sangat luas. Lanskap dan perubahan sosial dalam masyarakat, mengenal arsitektur, makanan tradisional, itu tiga tema yang saya ingat. Banyak sekali hal yang bisa dikaitkan dengan tema tersebut. Tapi tentu kita harus fokus di satu bahasan saja. Misal saya bahas tentang batik, saya tarik lagi ke motif batik tambal, lalu tarik lagi inti cerita ke unsur filosofisnya. Nah, di syarat lomba, tema juga harus dihubungkan ke fokus karakter seperti cinta keluarga, giat bekerja, dll. Silakan memadukan tema dan fokus karakter untuk membangun cerita.
  5. Cermati tanggal deadline. Kalau kirim fisik, apakah ada tulisan cap pos, atau tidak. Walau hal ini sepertinya sudah sangat jelas, di kolom komentar info-info menulis biasanya ada saja yang masih bertanya untuk memastikan. Jadi saya ulangi saja di sini. Kalau cap pos, berarti pada tanggal deadline kalian masih bisa mengirim. Kalau tidak, kasih jarak beberapa hari sebelumnya. Walau tersedia layanan kirim sehari sampai, untuk meminimalisir keadaan tak terduga, ya jangan mepet-mepet amatlah *ngomong sambil ngaca, qiqiq.
    Batik tambal saya kirimkan pada tanggal deadline, jam setengah sebelas malam. Untung di kota saya kantor pos besar buka 24 jam. Namun, bagaimana jadinya kalau kantor posnya sedang pengin libur, atau penjaga posnya keluar cari makan sebentar tapi sayanya gak tahu? Paling langsung pulang sambil nangis, hihi. So, usahakan jangan mepet-mepet banget ya. Hanya jiwa-jiwa ngeyel dan ndableg yang boleh mepet. Seperti saya, sebab kelakuan saya memang ga ada obat, qiqi.

Lanjut nanti tipsnya, cerita dulu, ah!

Pertemuan Pertama: Laptop Eror dan Mabok di Kemacetan Jakarta

Percaya nggak, dari 150an orang yang lolos Sayembara GLN 2017, saya cuma kenal satu orang saja, Mbak Yayan. Pemenang benar-benar di luar lingkaran pertemanan saya. Banyak nama-nama yang baru saya tahu, banyak juga nama-nama yang saya kenal sebagai sastrawan. Ketika kami dikumpulkan di sebuah grup wa, saya mendapat pengalaman baru mengenai beragam karakter orang, dan menyadari bahwa selama ini saya nyaris bagai katak dalam tempurung.

Rombongan Yogya

Kami peserta yang dari Yogya dan sekitarnya dalam sekejap menjadi akrab dan menyusun rencana untuk berangkat bersama. Seru sekali. Kami serombongan tuh random banget. Ada yang belum lulus kuliah, beberapa bapack-bapack, sampai ibu usia 70 tahun lebih. Iya, usia segitu masih aktif nulis dan ikut lomba. Mbah Prih, kalau di dunia lomba menulis yang diadakan pemerintah mungkin bisa dibilang legend saking seringnya menang. Ada juga Ibu Wiwiek, beliau juga guru yang sering menang lomba Dikbud, juga Pak Triman, sastrawan yang karyanya sering dimuat di koran. Bu Wiwiek ini baik sekali, karena nalangi kami ongkos pesawat PP. Ya, karena kami baru dapat uang transport di Jakarta, otomatis harus pakai uang sendiri dulu. Berkat Bu Wiwiek, hati senang walau tak punya uang, hihi. Matur nuwun Bu Wiwiek, moga selalu lancar rejeki 😉

Yup, banyak sekali ‘orang lama’ di GLN 2017, dan kebanyakan guru. Salut!

Teman sekamar yang sangat menyenangkan 😉

Kami disediakan kamar di gedung apa ya, saya lupa. Pokoknya itu milik pemerintah, hihi. Di sana, saya sekamar dengan Rifqa, si manis yang baik hati dan gemar menolong, Nanik yang ceria dan ramee banget, juga Mbak Rahma yang ramah, seru dan bawa stiletto warna emas (penting). Gokil pokoknya!

Hari kedua, kami dibagi dalam beberapa kelas. Di kelas saya, Mas Sanjaya yang bertugas. Nah kami diberi arahan revisi yang harus dikerjakan saat itu. Di GLN 2017, kewajiban lay out menggunakan indesign tuh baru diberitahu saat kami lolos, dan bukan syarat di awal lomba. Bisa dibayangkan penulis gaptek seperti saya, tiba-tiba harus revisi langsung di program indesign. Salah dikit, layout bubrah. Nah, di GLN tahun-tahun selanjutnya, penggunakan indesign untuk layout sudah diumumkan. Jadi, walau bukan penulis yang mengatak, penting kiranya mengenali program indesign, minimal untuk mengedit teks langsung pada program indesign. Sebab, saat revisi di acara pertemuan, penulis yang datang. Ya, kemungkinan akan ada teman yang membantu, tapi tentunya tidak merepotkan orang lebih baik. Kalau saya, di pertemuan pertama sudah terlanjur merepotkan teman, qiqiqi.

Tapi ada yang lebih horor. Saat sedang ngoprek naskah, tiba-tiba layar monitor saya berguncang, kresek-kresek kayak tivi rusak, lalu pet!

Mati!

Panik dong. Mana semua juga sibuk dengan naskah masing-masing. Di depan saya, untungnya ada mas-mas yang yang baik dan tenang banget, Mas Bani. Paling dianya gak tega lihat muka saya yang sekusut remesan bungkus gorengan, jadinya ia mencoba ngoprek laptop saya. Tapi ternyata, damage-nya tak terkendali. Laptop saya malah mati total. Saya kok ya lupa nggak menyimpan file di usb. Bawa usb aja nggak. Parah. Panitia tidak menyimpan file karena naskah lomba kan dalam bentuk hard copy. Justru mereka menunggu file yang sudah sekalian diperbaiki di lokasi. Akhirnya saya keluar ruangan, bawa laptop ke kamar.

Di kamar ngapain? Biasalah, orang cengeng dapat cobaan sih cuma bisa nangis sambil rebahan, hihihi. Setelah agak tenang, saya duduk lalu tarik napas. Dalam hati berdoa khusyuuk banget, benar-benar memohon pertolongan. Paling nggak dapat solusi apalah gitu. Kali panitia mau nerima perbaikannya ntar-ntar aja sepulang saya ke Yogya. Setelah berdoa, saya buka laptop, menekan tombol power, dan menunggu sambil dag dig dug.

Ya ampun, nyala dong! Saya langsung buka file indesign, eh bisa. Mungkin Tuhan sedang negur kecerobohan saya, dan nyolek saya biar berdoa yang bener-bener khusyuk gitu gak cuma merengek-rengek doang kalau sedang kesulitan :))

Saya langsung lari ke kelas bawa laptop dengan posisi terbuka. Di kelas, minjam usb, simpan file. Trus baru coba memasukkan kalimat pemantik di akhir naskah seperti permintaan Badan Bahasa. Tapi eeeh, kok ya laptop saya mati lagi!

Untung Mas Sanjaya yang baik hati bilang, ia akan membantu memasukkan kalimat pemantik ke naskah saya. Saya tinggal menuliskan saja di kertas. Hufft!

Karena tida ada lagi yang harus diperbaiki, ya sudah, saya sih nganggur. Waktu itu bulan puasa, dan kebetulan saya lagi gak puasa. Tapi malah laper karena ga ada makanan tersedia. Nasib, hahah. Nanik dan Mbak Rahma yang melarikan diri dari kelas karena mereka kebingungan ngoprek indesign malah ngajak jalan-jalan ke Thamrin City. Ya udahlah hayo! Yang lain pusing ngadep laptop di kelas, kami bertiga belanja baju dan mukena di Thamrin City. Kelakuan! :)))

Selesai belanja, kami terjebak macet. Perjalanan jadi lamaa banget. Mungkin karena saya lagi capek dan belum makan, mabok dong di jalan. Sampai ke kamar udah ga bisa angkat kepala saking pusingnya. Saya tidur, ternyata Nanik dan Mbak Rahma malamnya keluar lagi dan ditraktir bakso Pak Triman. Di kamar, Rifqa sedang membantu Maryam benerin layout dan mereka sepertinya lembur. Saya terbangun beberapa kali, mereka masih saja ngobrol dan ngadep laptop. Indesign memang cobaan untuk penulis GLN. Tapi syukurlah, cobaan saya sudah berlalu, tinggal gimana caranya bisa beli laptop lagi kalau laptop saya nggak mau nyala, huhu.

Pertemuan Kedua, Naik Panggung dan Didatangi Para Sahabat

Pertemuan kedua GLN diadakan beberapa bulan sejak pertemuan pertama. Tugasnya, kami merevisi naskah sesuai arahan Puskurbuk. Nah, di hari pertama, Bapak Mentri Pendidikan saat itu, Pak Muhadjir Effendi, akan membuka acara dan memberi penghargaan pada peserta secara simbolis. Eh, gak disangka saya termasuk salah satu penulis yang diminta maju menerima piagam dari Pak Mentri.

Kalau nggak salah, di jadwal Pak Mentri datangnya malam hari, abis jam makan malam. Tapi sore hari, panitia kasih info kami harus masuk ke ruangan karena Pak Mentri dalam perjalanan. Ya udah anteng di dalam. Eh, mentrinya nggak datang-datang, padahal udah lapar. Nah, panitia nggak bolehin kami makan dulu, karena kalau peserta bubar makan nanti kan susah ngumpulinnya lagi. Maklum, peserta makannya banyak, bolak-balik ambil menu di meja prasmanan, qiqiqi.

Saya dan beberapa teman yang akan maju ke panggung duduk di deretan depan. Sementara, di grup wa udah pada ribut aja pada kelaparan, hahaha. Saya kelaparan dan kedingingan, maklum ndeso, gak kuat AC. Akhirnya, Pak Mentri datang saat saya hampir ketiduran. Trus dimulailah serangkaian acara. Saya lirik Pak Mentri, eh kok ya sama kayak saya, kepalanya tekluk-tekluk. Hari yang melelahkan ya, Pak? Saama. Udah gitu saya rasanya tambah lapar sampai agak gemetar.

Tiba-tiba, ada seorang ibu pakai kemeja dan dasi meletakkan tripod dan kamera di depan saya. “Misi ya, Dek. Saya duduk di sini. Ia duduk di sebelah saya, mengeluarkan tape recorder, notes kecil dan bolpoin. Ia mulai merekam kegiatan. Katanya, ia wartawan yang tugasnya nulis berita-berita di website kementrian.

“Sst,” bisiknya. “Hobi nulis, ya?”

“Eh … iya.”

“Hebat euy, juara.”

“Hehe, makasih.”

“Udah kelas berapa? Atau udah kuliah?”

“Ha? Nganu … saya udah punya anak dua ….”

“He?!” dia sontak menoleh lalu mengerutkan dahi. “Ah, boong lu!”

Saya cengoh. Kalau biasanya bahagia dianggap lebih muda, kali itu saya cuma mbatin, terserah deeeh. Saya lapar, ya Allah :((

Begitu penerimaan hadiah, saya benar-benar sudah tak bergairah. Terlalu lapar, capek, dan kaki agak gemetar. Mau senyum aja males. Jadi pas naik ke panggung lalu dijepret-jepret wartawan tuh, saya narik senyumnya terpaksa, trus kaki goyah, dalam hati berdoa nggak pingsan di panggung, wakaka. Drama banget dah, hidup saya tuh!

Singkat cerita, begitu Pak Mentri berlalu, para peserta menyerbu ruang prasmanan dengan brutal, hahaha. Lalu ke kamar tidur (Saya sekamar dengan Mbak Yayan, jadi di kamar wis gak malu kalau ngelindur, hihi), bobok nyenyak untuk merevisi naskah sesuai arahan Puskurbuk keesokan harinya.

Nah, waktu itu, kami mendapat berlembar-lembar form penilaian dari puskurbuk, juga dummy buku. Di situ dikasih tau halaman berapa saja yang mesti diperbaiki. Ada nilainya juga. Jadi kalau nilainya kurang dari berapaa gitu gak lolos. Kalo di atas berapaaa gitu berarti bagus. Saya lupa nilai saya, yang pasti lumayanlah. Ada beberapa bagian yang harus direvisi juga.

Masing-masing kelas diampu satu pendamping dari Puskurbuk. Nah, ada drama juga nih di kelas saya. Jadi peserta yang gak lolos ada yang protes, minta dasar penilaiannya. Ya pokoknya seru-seru gimana gitu. Saya sih cah anyaran, jadi nyimak aja, deh.

Suasana di kelas saya. Sepi, kayaknya yang lain lagi ambil pizza di depan kelas 😉

Setelah ketegangan mereda, Ibu dari pusurbuk mulai meninjau naskah peserta. “Bisa nggak kamu telepon ilustratornya sekarang, minta dibuatkan gambar satu lagi, jadi hari ini gitu?”

Saya garuk-garuk kepala sambil njawab, “Nggak bisa.”

Ndableg emang, tapi kebayang repotnya kan. Belum tentu ilustratornya ready. Waktu itu saya kerja sama dengan Upit Dyoni. Setelah kasih alasan-alasannya, akhirnya Ibu Puskurbuk berpindah ke lain topik. Kali ini tentang adegan si tokoh dan anak punk yang menyusup masuk ke Prambanan di waktu malam untuk tidur beralas rumput dan beratap langit berhias bintang kejora. Romanis kan, tapi malah dikritik, dah :)))

“Kalau seperti ini, berarti mengajarkan anak-anak untuk masuk tempat wisata tanpa membeli tiket.”

Waduh, susah juga ya. Kalo beli tiket ya ceritanya beda lagi. Lagian seting waktu juga malam, loketnya udah tutup. Lagian itu anak punk/anak jalanan ….

Setelah berdiskusi, akhirnya kami bersepakat, adegan tetap ada, tapi saya kasih tambahan-tambahan kalimat yang intinya menyatakan kalau perbuatan tersebut gak legal. Wis, rasah dipikir abot. Yang penting adegan nggak ilang dan pesan tersampaikan 🙂

Lagi pula, saya janjian dengan sahabat-sahabat saya. Tahu saya di Jakarta, mereka mau ngapel. Ada Nunik dan Fita, penulis. Ada Ita, sahabat masa kuliah, dan Lita, sahabat waktu SMP. Jadi mau disuruh revisi seberat apa pun, saya bawaannya hepi nungguin kedatangan mereka. Ssst, saya bolos 2 sesi karena menemui mereka padahal revisian belum selesai. Hampir jam 9 malam, saya terbirit-birit masuk kelas dan menyelesaikan revisian. Untung di kelas ada Rifqa dan Mas Sanjaya. Pas lay out saya bubrah, mereka siap membantu 😉

Btw, laptop saya yang dulu rusak, begitu sampai Yogya, kok ya hidup tanpa ada tanda-tanda abis ngadat. Mbuhlah, mungkin laptop juga bisa ketularan drama dari pemiliknya ;((

Bahagiaaa banget ketemu kalian 😉

Well, sekian cerita pengalaman saya. Sebetulnya banyak kejadian lain yang juga seru sih, tapi lupa-lupa inget. Maklum sudah lama. Lha kok baru ditulis sekarang? Maklumlah, wong baru punya blog :)))

Lalu, mana momen mengubah hidupnya seperti yang tadi dibilang di awal?

Setelah menulis untuk lomba GLN 2017, motivasi menulis saya balik lagi seperti dulu setelah vakum 2 tahun tanpa menulis sama sekali. Tawaran menulis dari penerbit berdatangan, dan saya kembali terbiasa menulis lagi untuk ditawarkan ke penerbit.

Emang 2 tahun ngapain aja?

Jualan minyak sambil meratapi nasib, abis nulis hampir 1000 halaman gak jadi terbit karena chief editornya ghosting :)))

Aku rapopo. Soalnya abis dengar versi podcast Batik Tambal untuk Kakek 😉 *Clink

*Kalau mood mengizinkan, berikutnya saya tulis pengalaman GLN 2018 ya. Kalo mood, lho ….